kawan
mulutmu terlalu liar hingga tak mampu kau menjeratnya
matamu terlalu awas hingga kau tak lewatkan kerlip bakteri yang indah
tanganmu teramat gesit hingga barang sesempit mampu kau cubit
kakimu terlalu lincah hingga seenaknya kau berbuat ulah
kawan
otakmu terlalu cerdik hingga mudah benar salah kau bolak balik
IQmu terlali tinggi hingga kau lupa dan tak sadarkan diri
tingkah dan lakumu semakin tak terkendali
tak kenal orang tua dan muda
semua kau anggap sama
kawan
kita bersaudara, berkeluarga dalam satu kegilaan
kegilaan yang menyadari kewarasan
bukan gila yang kebablasan
kawan
mungkin ini tak pantas bagi kita
nama besar yang sukar dipendam dalam goa
kau terlihat berbeda
dengan sandang hebat dan salutan sejuta insan
kawan
aku lebih bodoh darimu
namun aku tak seliar kamu
aku memang lebih rendah darimu
tapi umurku seharusnya kau buat malu
kawan
apa hakikat kita bersaudara, berkeluarga dalam kegilaan
kau abaikan dan kau lupakan begitu saja
apa gunanya diciptakan adat
kalau hanya wacana dan bahan berdebat
kawan
aku tak tahan dengan sikapmu yang makin tak karuan
semakin membuatku muntah daran dan nanah
kawan
jika ucapku buat kau malu atau membarakan amarahmu
pukullah aku
tapi jangan kau cubit saudaraku
kawan
tak guna banyak bicara
kalau semua hanya pemanis saja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
baiknya karya tak terbuat langsung indah, namun saran dan kritik pembaca salah satu faktor penentu keindahan sastra