Dukaku
Senin, 28 Desember 2009. 11.14
Saat aaku mulai bangkit
dari sakit dan pailit
Cengkram putus asa
rekat mengencang hina
Usaha setan merayu
jiwa nan layu penuh haru
Kadang aku tertipu
Dan kadang aku menipu
Jagad raya begitu luas
Melebihi goresan kuas pada kanvas
Lebih indah dari lukisan samudra
Lebih buruk dari gambaran siksa
Ku nyanyikan lagu pilu
Sepilu pertiwi terkapar terusik manusia
Ku dendangkan lagu sendu
Sesendu udara bercampur debu
Ku tabuhkan gendang luka
Pada jiwa dan raga berlumur peluh
Pada tulang-tulangku yang mulai rapuh
Di atas karpet aku berdiam duduk
Bukan aladin atau bahkan penyihir busuk
Mungkin lebih buruk
Dari borok yang lama membusuk
Mengangkat lamun terbangkan angan
Terpental pada genting-genting kamar
Kembali jatuh menimpa kepala
Bekaskan luka lama yang makin menganga
Aku berjalan tanpa arah,
tanpa tujuan dan harapan
Aku berkata tanpa makna
hampa bagai gowa tanpa suara
aku berkicau tanpa paruh
bersuara bagai gemuruh
berlaku selalu keruh
berwajah cemberut
menunggu nyawaku terenggut
berharap dosaku larut
hingga dasar laut
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
baiknya karya tak terbuat langsung indah, namun saran dan kritik pembaca salah satu faktor penentu keindahan sastra